Abu Hurairah ra berkata, seorang laki-laki berkata kepada
Nabi Muhammad SAW., “Berilah aku
nasihat.” Beliau menjawab ,“Jangan
marah.” Beliau mengulanginya beberapa kali. “Jangan marah!” (HR. Bukhari)
Fiqhul Hadits
(Kandungan Hadits)
- Akhlak seorang muslim
- Rindu kepada surga
- Kesabaran kunci kemenangan dan keridhaan
- Kemarahan merupakan kumpulan kejahatan.
Sebaliknya, mengendalikan marah adalah kumpulan kebaikan.
- Kemarahan adalah kelemahan, sedang kesabaran
adalah kekuatan.
- Dampak dari kemarahan
- Mencegah kemarahan
- Marah karena mencari keridhaan Allah SWT
- Orang yang marah bertanggung jawab atas
perbuatannya.
- Semangat yang tinggi seorang muslim
- Sedikit bicara
1. Akhlak seorang Muslim
Seorang Muslim adalah orang yang memiliki akhlak yang terpuji, berhias
dengan kesabaran dan rasa malu, berpakaian tawadhu’
dan sayang kepada sesama. Dalam dirinya terpancar tanda-tanda kejantanan, mampu
menahan segala beban, berusaha untuk tidak mencelakai orang lain, pemaaf, penuh
kesabaran, dan mampu menahan emosi. Wajahnya senantiasa berseri-seri dalam
keadaan apapun.
Arahan inilah yang diberikan Rasulullah SAW., kepada sahabat yang meminta
nasihat. Sebuah ungkapan yang singkat dan padat mencakup semua kebaikan dan
menganulir semua bentuk keburukan “Jangan Marah.”
2. Rindu kepada Surga.
Pesan Rasulullah SAW diatas, ditunjukkan kepada penanya yang ingin
menempuh jalan ke surga, dengan meminta nasihat singkat, agar ia bisa menghafal
dan memahaminya. Pesan tersebut adalah La
taghdhab (jangan marah). Artinya, berakhlaklah dengan akhlak mulia, akhlak
para nabi, akhlak Al-Qur’an, akhlak yang
bersumber dari keimanan.
Jika kamu membiasakan diri dengan akhlak ini, bahkan menjadi tabiat dan
watakmu, niscaya kamu tidak akan mudah marah dan mengetahui sikap yang mesti kamu ambil.
3. Kesabaran Kunci Kemenangan dan keridhaan
Manakala nafsu dan kekuatan jahat telah bergolak dan menguasai diri,
janganlah kamu menyerah begitu saja, membiarkan diri dikuasai oleh kemarahan,
merasa hanya dirimu yang berhak melarang dan memerintah, lalu kamu melanggar
berbagai larangan Allah SWT. Sebaliknya, bekerja keraslah melawan seraya mengingat
akhlak seorang muslim sejati.
Sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam ayatNya,
”Dan
bersegeralah kalian semua terhadap ampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka itu
adalah orang-orang yang menginfakkan hartanya dalam kondisi senang maupun dalam
kondisi susah, menahan amarah, dan memaafkan manusia. Dan Allah mencintai
orang-orang yang muhsin” (Ali Imran:133-134)
Dengan demikian kamu terbebas dari kemarahan Allah SWT. Dan menjadi
orang-orang bertakwa yang berhak menjadi penghuni surga yang kekal abadi.
Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Abdullah Ibnu Umar ra. Bertanya kepada
Rasulullah SAW.,“Apa yang bisa menjauhkanku dari kermukaan Allah SWT?”
Rasulullah menjawab,“Jangan Marah”
Hasan Al-Bashry berkata,“Empat perkara, siapa pun yang dapat
melakukannya, tentulah Allah akan menjaganya dari setan dan dijauhkan dari
nerka. Yaitu orang-orang yang mampu menguasai dirinya ketika merasa ingin,
merasa takut, ketika birahinya bergejolak, dan ketika marah.”
4. Kemarahan merupakan kumpulan kejahatan.
Sebaliknya, mengendalikan marah adalah kumpulan kebaikan.
Dalam hadits di atas, kita melihat ketika dikatakan
kepadanya “jangan marah”, ia memahami dan langsung menerima nasihat tersebut. Akan
tetapi ia mengulangi permintaannya untuk diberikan nasihat. Seolah-olah ia
mengira bahwa nasihat yang diberikan kepadanyalah hanyalah sesuatu yang
sederhana. Maka ia ingin mendapatkan tambahan agar lebih bermanfaat, dan
tujuannya untuk masuk surga pun tercapai. Namun, rasulullah SAW tetap
memberikan jawaban yang sama. Ini merupakan penegasan bahwa pesan tersebut
sudah cukup, jika benar-benar dipahami maksudnya dan diamalkan.
Setelah penegasan berulang-berulang, barulah si penanya sadar dan
memahami maksud Rasulullah SAW. Imam Ahmad meriwayatkan dari orang yang
bertanya, bahwa ia berkata, “Setelah itu saya memahami, bahwa kemarahan
mencakup seluruh kejahatan”. Artinya, jika tidak marah maka sebenarnya
seseorang telah meninggalkan semua kejahatan, maka ia akan mendapatkan semua
kebaikan. Karenanya, kita patut ucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.,
yang telah mengarahkan umatnya kepada akhlak terpuji dan memberi peringatan
untuk tidak mendekati “pintu” semua kejahatan.
Diriwayatkan dalam sebuah hadits, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada
Rasulullah SAW ,”Perbuatan apakah yang paling mulia?” Rasulullah menjawab, “Akhlak
yang terpuji. Yaitu janganlah kamu marah, meskipun kamu melampiaskan kemarahan.”
5. Kemarahan adalah kelemahan, sedang kesabaran
adalah kekuatan.
Cepat marah merupakan tanda lemahnya seseorang, meskipun ia memiliki
lengan yang kuat dan badan yang sehat.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan
dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang kuat, bukanlah karena jago dalam
gulat. Orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.”
6. Dampak dari Kemarahan
Marah adalah akhlak yang tercela, tabiat yang buruk, dan senjata yang
membahayakan. Jika seseorang terperosok ke dalam amarah, maka akan berdampak negatif
bagi diri dan masyarakatnya.
7. Mencegah Kemarahan
Mencegah atau meredam kemarahan, bisa dilakukan dengan banyak cara yang
telah diajarkan oleh Islam. Di antaranya:
- Melatih jiwa dengan berbagai akhlak terpuji,
seperti sabar, lemah lembut, tidak tergesa gesa dalam segala hal, dan lain
sebagainya.
- Mengingat-ingat dampak dari marah, keutamaan
meredam amarah dan keutamaan memaafkan orang yang berbuat salah. Allah SWT
dalam firmanNya, “Dan orang yang bisa
meredam amarah dan memaafkan orang lain. Dan Allah mencintai orang orang yang
berlaku ihsan.” (QS Ali ‘Imran:134)
Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah, meriwayatkan bahwa
Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa yang menahan amarah dan ia sebenarnya
mampu untuk meluapkannya. Maka pada hari Kiamat kelak, ia akan dipanggil Allah
di hadapan semua makhlukNya, lalu ia disuruh memilih bidadari yang ia inginkan”
- Ta’awudz,(mengucapkan Audzu billahi minasyaithonirrojim) Allah SWT berfirman, “Dan jika engkau ditimpa godaan
setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi
Maha mengetahui.” (QS Al-A’raf:200)
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa dua orang laki-laki saling
mencaci di samping Rasulullah SAW. Salah satunya mencaci saudaranya sambil
marah hingga wajahnya memerah. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku
mengetahui satu kalimat, andai ia ucapkan, tentu kemarahan mereka akan hilang. Yaitu
Audzu billahi minasyaithonirrojim (aku
berlindung dari godaan setan yang terkutuk).”
Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Jika
salah seorang di antara kalian marah dan dia berdiri, maka duduklah. Karena kemarahan
akan hilang. Jika belum juga hilang maka berbaringlah.”
Karena dengan tetap berbicara, sangat memungkinkan kemarahannya
bertambah, atau ia mengucapkan perkataam yang akan ia sesali setelah
kemarahannya reda. Rasulullah SAW bersabda, “ Jika salah seseorang di antara
kamu marah maka diamlah.” Nabi SAW. Mengucapkannya tiga kali.” (HR Imam Ahmad,
Tirmidzi, dan Abu Dawud)
Karena pada dasarnya, kemarahan adalah api yang membara dalam diri
manusia, maka air akan memadamkan api tersebut. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya
kemarahan pada dasarnya adalah bara yang sedang membakar di hati anak adam.”
(HR Imam Ahmad dan Tirmidzi)
8. Marah karena mencari keridhaan Allah SWT
Marah yang harus dijauhi oleh setiap muslim adalah marah yang didasari
dendam dan bukan untuk membela ajaran Allah SWT. Adapun marah untuk membela
agama Allah SWT. Atau membela kehormatan seorang muslim yang diinjak-injak,
maka marah seperti ini adalah marah yang terpuji. Allah SWT berfirman “Perangilah mereka, niscaya Allah akan
menyiksa mereka dengan (perantaraan) teman-temanmu dan Allah akan menghinakan
mereka dan menolong kamu terhadap mereka, melegakan hati orang orang beriman
dan menghilangkan kemarahan mereka.” (At
Taubah: 14-15)
Dalam riwayat Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah SAW lebih pemalu
daripada seorang gadis dalam pinangan. Jika beliau melihat sesuatu yang tidak
disukai maka kami bisa mengetahui dari wajahnya.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW. Tidak pernah marah.
Namun jika larangan Allah dilanggar, maka tidak ada sesuatupun yang dapat
meredam kemarahannya. “(HR Bukhari, Muslim dan yang lain)
9.
Orang yang Marah Bertanggung Jawab atas
perbuatannya
Jika di saat marah, seseorang merusakkan harta orang lain, maka ia harus
menggantinya. Jika ia membunuh seseorang, dengan sengaja dan penuh permusuhan,
maka ia layak di qishash. Jika ia mengucapkan perkataan yang menunjukkan
kekufuran, maka dianggap murtad sampai ia bertaubat kembali. Jika bersumpah,
maka sumpahnya sah dan harus dilaksanakan. Dan jika mengucapkan thalak (cerai), maka ia benar-benar
menceraikan istrinya.
10. Hadits
ini mengisyaratkan semangat yang tinggi seorang muslim untuk selalu mendapatkan
nasihat, mengetahui sisi-sisi kebenaran dan senantiasa menambah pengetahuan
dengan ilmu yang bermanfaat.
11. Hadits
ini juga mengisyaratkan untuk sedikit bicara, banyak bekerja, dan memberikan
pelajaran dengan keteladanan yang baik.
Demikian penjabaran dari hadits ini, yang baik datangnya dari Allah yang tidak baik
datangnya dari penulis, saran dan kritik atas rubik ini dengan besar hati
dapat disampaikan kepada penulis via twitter (@eganingrum). Wassalamualaikum Wr Wb
Achmad Sunarto dkk. Tarjamah Shahih Bukhari.1992