Showing posts with label SPM. Show all posts
Showing posts with label SPM. Show all posts

Sunday, November 9, 2014

Rasulullah saw. sebagai Suri Teladan

By Unknown   Posted at  9:13 PM   SPM No comments
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah saw. itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS Al-Ahzab:21) 
Telah jelas dalam firman Allah SWT bahwa Rasulullah saw. ialah sebaik-baik suri teladan bagi kaum muslimin. Salah satu akhlak beliau yang patut kita teladani ialah pola makan dan minum. Betapa tidak? Suatu fakta yang tidak terbantahkan ialah Rasulullah saw. jarang dan hampir tidak pernah menderita sakit, kecuali dalam dua hal yaitu saat beliau menerima wahyu Allah melalui malaikat Jibril, dan beberapa hari sebelum beliau wafat. Dalam buku Sirah Nabawiyah dijelaskan bahwa pada Senin 29 Safar 11 Hijriah, Rasulullah saw. merasakan sakit kepala dan demam sepulang  pemakaman di Baqi selama sekitar 14 hari. Namun, beliau masih sanggup mengimami sholat di masjid. Rasulullah wafat pada Senin 12 Rabiulawal 11 Hijriah dalam usia 63 tahun lebih 4 hari. Subhanallaah. Selain anugerah dari Allah SWT, tentu ada prinsip beliau dalm pola makan dan minumnya.


 
Tahukah kamu, apa saja prinsip-prinsip Rasulullah saw. yang diperintahkan Allah SWT dan diterapkan oleh beliau dalam kehidupan sehari-harinya? Ya, benar. Prinsip-prinsip tersebut:
a. Makan dan minum tidak berlebihan;
b. Makan apabila lapar dan berhenti sebelum kenyang;
c. Lambung diisi dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga udara.
Secara medis, 3 prinsip rasulullah saw. tersebut sudah terbukti dapat menjaga kesehatan tubuh. Juga dibuktikan oleh Thomas J. Slaga, Ph.D dalam bukunya The Detox Revolution bahwa penurunan asupan kalori akan meningkatkan sistem detoksifikasi (penetralan racun dalam tubuh) (Suwardi, Muhammad: 2014).

Rasulullah saw. tercinta juga sangat memerhatikan keseimbangan asam-basa dalam pola makan dan minumnya. Contohnya, kurma dan timun atau kurma dan melon. Mengapa demikian? Dalam 5 butir buah kurma (sekitar 45 gram) kurang lebih berisi kandungan zat 115 kalori, dan hampir semuanya adalah zat karbohidrat. (Read more: http://doktersehat.com/khasiat-kandungan-sari-buah-kurma-untuk-kesehatan-dan-pengobatan-penyakit/#ixzz3IZuD6Vqd), dan kandungan airnya sedikit. Namun, timun dan melon berkalori rendah dan kandungan airnya mencapai sekitar 95% (Suwardi, Muhammad: 2014).
"Abdullah bin Jaf'ar meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah memakan buah mentimun dengan kurma matang." (HR. Buhkari dan Muslim)

Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah memakan buah melon dengan kurma.
Nabi saw. bersabda,"Panasnya buah yang satu ini (kurma) akan dihilangkan oleh dinginnya buah yang lain (melon), dan dinginnya buah ini (melon) akan dihilangkan oleh panasnya buah yang lain (kurma)." (HR. Abu Dawud)
Panas identik dengan asam. Jika tubuh mengandung asam berlebih, akan timbul panas yang berlebih juga di dalam tubuh. Hal tersebut akan mengakibatan tubuh rentan terserang penyakit seperti sakit kepala, hipertensi, stroke, serangan jantung, serta maag. Begitupun sebaliknya. Saat tubuh megandung basa berlebih, maka akan mudah terserang penyakit tekanan darah rendah, batuk, flu, bronkitis, dan mudah lelah. (Suwardi, Muhammad: 2014)

Setelah makan, Rasulullah saw. tidak langsung tidur, melainkan terlebih dahulu melakukan kegiatan.
"Rasulullah saw. bersabda,"Cairkan makanan kalian dengan berdzikir kepada Allah dan sholat, janganlah kalian langsung tidur karena dapat menyebabkan hati menjadi keras." (HR. Abu Nu'aim dari Aisyah)
Ada contoh kehidupan hewan yang bisa kita ambil hikmahnya, insya Allah. Contohnya, ular. Ular dapat makan melebihi kapasitas perutnya. Bahkan mangsanya bisa sebesar kambing. Akibatnya, ular akan tertidur pulas dan tidak akan dapat digubris bahkan tidak dapat menggerakkan badannya jika diusik oleh makhluk atau rangsangan lain. Boleh jadi hal inilah yang berhubungan dengan hadits di atas, yaitu makan terlalu kenyang akan membuat kita terkantuk dan dapat menyebabkan hati menjadi keras. Apalagi tidur di malam hari dalam kondisi kenyang. Mungkin adzan Subuh tidak akan digubris karena rasa malas yang sudah menjalar di tubuh. Na'udzubillaahiminzalik
Terima kasih telah membaca posting ini. Semoga bermanfaat dan bisa saling mengingatkan akan pentingnya pola makan dan minum yang menjadi prinsip Rasulullah saw. tercinta.

Wassalamu'alaykum warahmatullaahi wabarakatuh.

Sunday, October 26, 2014

Kisah Inspiratif Hari Ini

By Unknown   Posted at  9:31 PM   SPM No comments
Judul asli : قصة رائعة جدا ومعبرة ومؤثرة
Penerjemah : Shiddiq Al-Bonjowiy

Setiap selesai sholat jum'at tiap pekannya, seorang imam (masjid) dan anaknya (yg berumur 11 tahun) mempunyai jadwal membagikan buku–buku islam, diantaranya buku at-thoriq ilal jannah (jalan menuju surga). Mereka membagikannya di daerah mereka di pinggiran Kota Amsterdam.

Namun tibalah suatu hari, ketika kota tersebut diguyuri hujan yang sangat lebat dengan suhu yang sangat dingin.

Sang anakpun mempersiapkan dirinya dengan memakai beberapa lapis pakaian demi mengurangi rasa dingin. Setelah selesai mempersiapkan diri, ia berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, aku telah siap" ayahnya menjawab : "Siap untuk apa?" , ia berkata: "Untuk membagikan buku (seperti biasanya)", sang ayahpun berucap: "Suhu sangat dingin diluar sana, belum lagi hujan lebat yang mengguyur", sang anak menimpali dengan jawaban yang menakjubkan : "akan tetapi, sungguh banyak orang yang berjalan menuju neraka diluar sana dibawah guyuran hujan".
 

Sang ayah terhenyak dengan jawaban anaknya seraya berkata: "Namun ayah tidak akan keluar dengan cuaca seperti ini", akhirnya anak tersebut meminta izin untuk keluar sendiri. Sang ayah berpikir sejenak dan akhirnya memberikan izin. Iapun mengambil beberapa buku dari ayahnya untuk dibagikan, dan berkata: "terimakasih wahai ayahku".

Dibawah guyuran hujan yang cukup deras, ditemani rasa dingin yang menggigit, anak itu membawa buku-buku itu yang telah dibungkusnya oleh skantong plastik ukuran sedang agar tdk basah terkena air hujan, lalu ia membagikan buku kepada setiap orang yang ditemui. Tidak hanya itu, beberapa rumahpun ia hampiri demi tersebarnya buku tersebut.

Dua jam berlalu, tersisalah 1 buku ditangannya. Namun sudah tidak ada orang yang lewat di lorong tersebut. Akhirnya ia memilih untuk menghampiri sebuah rumah disebrang jalan untuk menyerahkan buku terakhir tersebut.

Sesampainya di depan rumah, ia pun memencet bel, tapi tidak ada respon. Ia ulangi beberapa kali, hasilnya tetap sama. Ketika hendak beranjak seperti ada yang menahan langkahnya, dan ia coba sekali lagi ditambah ketukan tangan kecilnya. Sebenarnya ia juga tidak mengerti kenapa ia begitu penasaran dengan rumah tersebut.

Pintupun terbuka perlahan, disertai munculnya sesosok nenek yang tampak sangat sedih. Nenek berkata: "ada yang bisa saya bantu nak?" Si anak berkata (dg mata yg berkilau dan senyuman yang menerangi dunia): "Saya minta maaf jika mengganggu, akan tetapi saya ingin menyampaikan bahwa Allah sangat mencintai dan memperhatikan nyonya. Kemudian saya ingin menghadiahkan buku ini kepada nyonya, di dalam nya dijelaskan tentang Allah Ta'ala, kewajiban seorang hamba, dan beberapa cara agar dapat memperoleh keridhoannya."

Satu pekan berlalu, seperti biasa sang imam memberikan ceramah di masjid. Seusai ceramah ia mempersilahkan jama'ah untuk berkonsultasi. Terdengar sayup – sayup dr shaf perempuan seorang perempuan tua berkata:"Tidak ada seorangpun yang mengenal saya disini, dan belum ada yang mengunjungiku sebelumnya. Satu pekan yang lalu saya bukanlah seorang muslim, bahkan tidak pernah terbetik dalam pikiranku hal tersebut sedikitpun. Suamiku telah wafat dan dia meninggalkanku sebatang kara di bumi ini".

Dan iapun memulai ceritanya bertemu anak itu.
"Ketika itu cuaca sangat dingin disertai hujan lebat, aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Kesedihanku sangat mendalam, dan tidak ada seorangpun yang peduli padaku. Maka tidak ada alasan bagiku untuk hidup. Akupun naik ke atas kursi dan mengalungkan leherku dengan seutas tali yang sdh kutambatkan sebelumnya. Ketika hendak melompat, terdengar olehku suara bel. Aku terdiam sejenak dan berpikir :"paling sebentar lagi juga pergi".
Namun suara bel dan ketukan pintu semakin kuat. Aku berkata dalam hati: "siapa gerangan yang sudi mengunjungiku,… tidak akan ada yang mengetuk pintu rumahku".

Kulepaskan tali yang sdh siap membantuku mengakhiri nyawaku, dan bergegas ke pintu. ketika pintu kubuka, aku melihat sesosok anak kecil dengan pandangan dan senyuman yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku tidak mampu menggambarkan sosoknya kepada kalian.
Perkataan lembutnya telah mengetuk hatiku yang mati hingga bangkit kembali. Ia berkata: "Nyonya, saya datang untuk menyampaikan bahwa Allah Ta'ala sangat menyayangi dan memperhatikan nyonya", lalu dia memberikan buku ini (buku jalan menuju surga) kepadaku.

Malaikat kecil itu datang kepadaku secara tiba-tiba, dan menghilang dibalik guyuran hujan hari itu juga secara tiba2. Setelah menutup pintu aku langsung membaca buku dari malaikat kecilku itu sampai selesai. Seketika kusingkirkan tali dan kursi yang telah menungguku, karena aku tidak akan membutuhkannya lagi.
Sekarang lihatlah aku, diriku sangat bahagia karena aku telah mengenal Tuhanku yang sesungguhnya. Akupun sengaja mendatangi kalian berdasarkan alamat yang tertera di buku tersebut untuk berterimakasih kepada kalian yang telah mengirimkan malaikat kecilku pada waktu yang tepat. Hingga aku terbebas dari kekalnya api neraka."

Air mata semua orang mengalir tanpa terbendung, masjid bergemuruh dengan isak tangis dan pekikan takbir… Allahu akbar…

Sang imam (ayah dari anak itu) beranjak menuju tempat dimana malaikat kecil itu duduk dan memeluknya erat, dan tangisnyapun pecah tak terbendung dihadapan para jamaah.
Sungguh mengharukan, mungkin tidak ada seorang ayahpun yang tidak bangga terhadap anaknya seperti yang dirasakan imam tersebut.
_____________________________________
Note: Mari terus sebarkan kebaikan. Kita tidak pernah tahu berapa banyak orang yg mendapatkan hidayah dengan sedikit langkah yg kita lakukan...

Friday, October 10, 2014

Sunnah Of The Week: Shalat Dhuha

By Unknown   Posted at  5:30 AM   SPM No comments
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Abu Hurairah ra berkata: "Orang yang aku cintai yaitu Rasulullah SAW berpesan kepadaku akan tiga hal: Puasa 3 hari pada tiap bulan (ayyamul bidh), Shalat Dhuha 2 rakaat, dan Shalat Witir sebelum tidur" (HR Muslim)
Ungkapan Syukur di Pagi Hari

Allah SWT mencintai hambaNya yang bersyukur. Sebaliknya Allah membenci hambaNya yang kufur. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman yang artinya,"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan:'sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih." (QS Ibrahim:7)

Shalat Dhuha di pagi hari merupakan ajang untuk mengucapkan syukur atas nikmat yang telah diberikanNya. Yaitu nikmat hidup setelah Allah SWT mematikan kita dimalam hari dengan tidur, selanjutnya kita terbangun memuji Allah, "alhamdulillahiladzi ahyana ba'da ma amatana wa'ilaihin nusyur (segala puji bagi Allah, Zat yang menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan hanya kepadaNya lah kami dikembalikan." (HR Bukhari)


Waktu dhuha adalah saat matahari sudah terbit. Di saat itulah, kenikmatan kita masih bisa memandang matahari pagi, kita luapkan dengan sujud kepada Allah SWT diwaktu dhuha. Mengingat Allah SWT melalui shalat akan menumbuhkan semangat baru dalam hidup. Ibarat berkomunikasi dengan sebuah kekuatan Mahadasyat, pasti kita akan mendapatkan kekuatan pula, yang akan kita pergunakan untuk menyambut dan menjalani hari.

Membuka Pintu Rezeki
Sering dikatakan bahwa shalat Dhuha adalah shalat rezeki. Ini senada dengan firman Allah SWT dalam sebuah hadits Qudsi, yang artinya, "Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan 4 rakaat pada permulaan siang (yakni shalat Dhuha), nanti akan Kucukupi kebutuhanmu pada sore harinya" (HR Hakim)

Adapun berkaitan dengan rezeki, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an yang artinya,

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezeki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman" (QS Ar-Rum:37)

"Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?" (QS An-Nahl:71)

"Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezekiNya? Sebenarnya mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?" (QS Al-Mulk:21)

Penjabaran Al-Qur'an mengenai rezeki disini bukan hanya uang atau keuntungan materi duniawi karena rezeki Allah SWT sangat luas dan beragam bentuknya. Bisa berbentuk uang, kesehatan, tetangga yang baik, dimudahkan setiap urusannya, diringankan untuk selalu melakukan kebaikan dan sebagainya.

Tergolong Sebagai Orang yang Bertaubat 

“Tidaklah seseorang selalu mengerjakan shalat Dhuha kecuali ia telah tergolong sebagai orang yang bertaubat.” (HR. Hakim).

Masuk Melalui Pintu Surga Khusus

“Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pintu bernama pintu Dhuha. Apabila Kiamat telah tiba maka akan ada suara yang berseru, ‘Di manakah orang-orang yang semasa hidup di dunia selalu mengerjakan shalat Dhuha? Ini adalah pintu buat kalian. Masuklah dengan rahmat Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR. At-Thabrani).

Sama Dengan Bersedekah

"Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab tiap kali bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah yang mungkar adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu, maka cukuplah mengerjakan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR Muslim).

Diampuni Dosa-Dosanya oleh Allah

“Barangsiapa yang selalu mengerjakan shalat Dhuha niscaya akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Turmudzi)



Source:
Sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki . Khasais al-Ummah al-Muhamadiyah



Friday, October 3, 2014

Sunnah Of The Week: Menjaga Wudhu

By Unknown   Posted at  9:36 PM   SPM No comments
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Rasulullah SAW bersabda "Sungguh, umatku akan dipanggil nanti pada hari Kiamat dalam keadaan bercahaya disekitar muka, tangan, dan kaki, karena bekas wudhu. Karena itu, barangsiapa diantara kalian sanggup melebihkan basuhan wudhunya (melebihi yang telah difardhukan pada muka, tangan dan kaki), maka hendaklah ia melakukannya." (HR Bukhari dan Muslim)

Menghapus Dosa
Allah SWT Maha Pengasih. Dia memberikan nikmat kapada kita berupa wudhu. Saat segarnya air mulai membasahi kulit, dosa dosa yang pernah kita lakukan juga berguguran bersamaan dengan tetesan tetesan air yang jatuh ke tanah.

Rasulullah SAW bersabda "Jika seorang muslim atau mukmin itu berwudhu, maka ketika ia membasuh mukanya, keluarlah setiap dosa yang dilakukan oleh kedua matanya, karena melihat sesuatu yang diharamkan. Hilangnya bersama-sama dengan air itu bersama-sama dengan tetesan air terakhir. Jika ia membasuh kakinya, maka keluarlah dosa yang diperbuat oleh kedua kakinya, karena digunakan berjalan pada jalan yang tidak benar, bersama-sama dengan air atau bersama-sama dengan tetesan air terakhir, sehingga ia bersih dari dosa." (HR Muslim)

Sebagai manusia, kita pasti pernah tergelincir berbuat dosa, baik disadari maupun tidak. Karena kita bukan malaikat yang tidak dilengkapi nafsu-sebagai pintu masuk perbuatan dosa itu. Dosa itu bisa menyangkut hubungan langsung antara kita dengan Allah SWT, bisa pula menyangkut hubungan kita dengan sesama manusia.

Allah menggugurkan dosa-dosa lewat basuhan basuhan air wudhu, maupun memberikan ampunan lewat istighfar-tanpa perantara.

Dekat dengan Allah SWT
Menjaga wudhu artinya menjaga kesucian diri lahir dan batin. Mungkinkah orang yang menjaga wudhu, tidak menjaga shalatnya?Mungkinkah orang yang menjaga wudhu, tidak menjaga pandangan matanya?Mungkinkah orang yang menjaga wudhu, tidak menjaga pendengaran dan lisannya dari perbuatan dosa? Jawabannya; Mungkin saja...

Karena manusia tidak ada yang sempurna. Dia bisa tergelincir ke dalam perbuatan dosa. Dosa bisa dilakukan oleh kedua matanya, kedua tangannya, lisannya, ataupun anggota badan lainnya.

Saya berhusnuzan, mereka yang menjaga wudhu akan berusaha juga menjaga shalatnya agar tepat waktu. Mereka yang menjaga wudhu akan berusaha menjaga matanya dari pandangan yang diharamkan.Mereka yang menjaga wudhu akan berusaha menjaga kebersihan lisannya, pengelihatannya, dan seluruh anggota tubuhnya dari perbuatan dosa.

Buah dari perbuatan baik adalah mengundang perbuatan baik adalah mengundang perbuatan-perbuatan baik setelahnya. Ibnu Qayyim menuturkan tentang perkataan ulama salaf: "Sesungguhnya hukuman bagi kejahatan adalah lahirnya kejahatan setelahnya dan pahala kebaikan adalah lahirnya kebaikan setelahnya"

Mereka yang membersihkan diri dari dosa, akan dekat dengan Allah SWT. Mereka yang dekat dengan Allah SWT akan mendapatkan fasilitas-fasilitas dari Allah SWT. Bila dekat dengan raja bisa menjadikan diri kita terhormat, maka dekat denan Allah SWT yang merupakan Raja Diraja tentunya akan jauh lebih terhormat.

Menjaga wudhu artinya dekat dengan kesucian, baik suci lahir maupun dan bathin. Menjaga Wudhu artinya dekat dengan kebaikan. Dan kebaikan akan mendekatkan kita kepada Allah SWT.

Pintu Meraup Pahala
Bila memiliki wudhu, kita bisa langsung shalat. Tahiyyatul masjid saat memasuki masjid. Kita juga bisa langsung menunaikan shalat fardhu saat iqamah berkumandang terlebih lagi ketika saat berada di masjid, kita tak perlu mengantri lagi untuk mengambil air wudhu yang terkadang menyebabkan kita tidak bisa menempati shaf paling depan yang mengandung keutamaan. Saat ada mushaf, dengan memiliki wudhu kita bisa langsung bertilawah dan begitu juga pada waktu-waktu shalat sunnah, seperti shalat dhuha. Singkatnya, senantiasa menjaga wudhu akan menjadikan kita berpeluang dalam meraup kebaikan dan pahala sebanyak-banyaknya.

Rasulullah SAW bersabda, "Malaikat memintakan ampun dan rahmat untuk seseorang diantara kalian, selagi dia berada ditempat shalatnya yang baru ia selesaikan, selagi tidak berhadas. Malaikat berdoa: 'Allahummaghfir lahu allahummarhamhu (Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah rahmatilah ia)' " (HR Bukhari)

Adapula doa sesudah wudhu yang bisa kita amalkan agar pahala kita bertambah besar. Umar bin Khaththab ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda "Tidak seorang pun diantara kalian yang berwudhu dengan menyempurnakan wudhu kalian, kemudian mengucapkan, 'Asyhadu an la ilaha illah wahdahu la syarikalah wa 'asyhadu anna muhammadan abduhu warasuluh (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT, tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya)', kecuali ia dibukakan pintu-pintu surga yang delapan, yang bisa ia masukin darimana pun yang ia suka." (HR Muslim)

Cemerlang di Wajah
Wudhu akan menjadikan wajah kita cemerlang. Pun nanti di akhirat, wudhu yang kita lakukan akan menjadikan wajah kita bersinar terang. Rasulullah SAW akan mudah mengenali pancaran dahi kita (umatnya) apabila sering terbasuh air wudhu sebgaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits,

"Sungguh, umatku akan dipanggil nanti pada hari Kiamat dalam keadaan bercahaya disekitar muka, tangan, dan kaki karena bekas wudhu. Karena itu, barangsiapa diantara kalian sanggup melebihkan basuhan wudhunya (melebihi yang telah difardhukan pada muka, tangan, dan kaki), maka hendaklah ia berbuat" (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam  hadits yang lain, Abu Hurairah bercerita bahwa Rasulullah SAW datang kekubur dan mengucapkan: "Assalamualaikum dara qaumin mu'min wa inna insya Allahu bikum lahiqun', Aku senang sekali bila melihat saudara-saudaraku."

Para sahabat bertanya, "Bukankah kami ini saudaramu, wahai Rasulullah?"

Beliau Rasulullah SAW menjawab, yang artinya "Kamu sekalian adalah sahabatku. Adapun saudara-saudara kita adalah orang-orang yang belum datang."

Para Sahabat bertanya, "Bagaimana engkau mengetahui umat yang belum datang dari umatmu, wahai Rasulullah?"

Rasulullah SAW menjawab, "Bagaimana pendapatmu jika seandainya ada seseorang yang mempunyai seekor kuda putij cemerlang berada ditengah-tengah kuda hitam pekat; apakah ia tidak mengetahui kudanya yang putih cemerlang itu?"

Para sahabat berkata, "Pasti mengetahui, ya Rasulullah."

Beliau(Rasulullah SAW) bersabda, "Sesungguhnya saudara-saudara kita itu akan datang dalam keadaan putih cemerlang karena wudhu dan aku akan membimbing mereka ke telaga (al-Kautsar)" (HR Muslim)

Resep Sehat Gratis

Salah satu jalan untuk mendapatkan kesehatan adalah dengan menjaga kebersihan, baik kebersihan diri, pakaianm rumah maupun lingkungan. Kebersihan diri salah satunya kita dapatkan dengan rajin berwudhu. 

Itulah nikmat Allah SWT berupa wudhu. Dengan basuhan demi basuhan yang menyegarkan, Allah SWT menyiapkan kita untuk menghadapNya. Bila saat hendak menunaikan shalat kita berada dalam kondisi segar, maka saat menyambut panggilan kerja tubuh kita akan menadi lebih bugar.

Pengaruh terhadap Etos Kerja & Kinerja

 Apakah ada pengaruh wudhu terhadap peningkatan etos kerja dan kinerja? Sepintas tidak ada. Namun jika kita menggali filosofi wudhu, kita akan merasakan bahwa wudhu akan memengaruhi etos kerja.

Berwudhu yang diidentikkan ketika hendak shalat, bila dilakukan dengan ikhlas dan benar, akan memengaruhi sikap hidup dan produktivitas kita dalam bekerja.

Dikisahkan bahwa Ali bin Husein, tatkala selesai berwudhu mukanya kelihatan pucat. Ketika ditanya, ia menjawab, "Tidak tahukah kalian, dihadapan siapa aku hendak berdiri?" Rasa takutnya kepada Allah SWT menjadikan roman mukanya berubah saat berwudhu, karena sebentar kemudian ia akan menghadap kepadaNya, kepada Zat Yang KeagunganNya tiada tertandingi.

Bila kita mengerjakan wudhu dengan benar, kita akan merasakan setiap basuhan dan tetesan air yang mengguyur, membayang bahwa Allah SWT mulai menggugurkan dosa-dosa kita, kemudian Allah SWT juga memanggil kita untuk menghadapNya,rasa takut kepadaNya pun hinggap di hati kita. Takut akan siksa dan NerakaNya pun akan senantiasa berhati-hati dalam menjalani hidup agar tidak tergelincir kepada perbuatan dosa dan kemaksiatan. Sehingga kita akan bertanggung jawab atas apa yang menjadi tanggung jawab kita serta berusaha sebaik mungkin dalam menjalani peran kita sebagai profesi maupun sebagai anggota keluarga.

Source:
Fadlan al-Ikhwani. Dahsyatnya 7 Sunnah

Atas Izin Allah SWT

By Unknown   Posted at  5:06 PM   SPM No comments
Pekerjaan dan jabatan bagus yang didapatkan bukanlah karena otak kita yang pintar, tapi karena izin Allah. Sepintar apapun kita, jika Allah berkata tidak maka tak kan bisa kita bekerja.
 

Bisa membeli segala yang kita inginkan bukanlah karena uang kita yang banyak tapi karena izin Allah.

Sekaya apapun kita, jika Allah katakan tidak, kita tak kan mampu membeli apapun.
Apapun yang kita miliki sekarang, jika bukan karena izin Allah maka semua takkan ada.
Usahakan Allah selalu hadir dalam setiap kehidupan kita (ibadah), bukan hanya karena ingin izin NYA tapi juga krna Ridho dan Jaminan NYA.

Ibadah ibarat membayar premi asuransi, makin banyak premi yang dibayarkan, maka makin besar jaminannya.
Jaminan kemudahan urusan, jaminan rezeki, jaminan ampunan bahkan bi idznillaah, jaminan surga. In syaa Allah.
Tidak inginkah kita mendapatkan jaminan NYA?
Jika iya, kenapa masih saja menunda-nunda segala ibadah?
Jika iya, kenapa masih sombong dengan dunia?
Jika iya, kenapa masih disibukkan dengan pekerjaan?

"Afwan, hari ini tidak tilawah tidak ada sinyal."
Kata Allah..
Hari ini permintaan kamu di tunda dulu yah, sinyalnya putus-putus tidak jelas. Masih banyak hamba KU yang berusaha mencari 'sinyal' untuk berkomunikasi dengan KU.

"Afwan, hari ini sibuk banget tidak sempat tilawah."
Kata Allah..
Silakan kamu cari jalan keluar mu sendiri, masih banyak hamba KU yang lebih sibuk mencari KU agar urusannya dimudahkan.

"Afwan, juz saya dilelang dulu yah. Saya pulang kerja, urus anak, urus istri, sudah lelah dan tidur."
Kata Allah..
Sayang sekali, baru saja AKU ingin mengabulkan permintaanmu. Kalau begitu permintaanmu AKU lelang dulu kepada yang lebih sibuk meminta dan beribadah padaku.

"Afwan saya sedang ada masalah, afwan saya sedang tidak enak badan, afwan.. Afwan.. Afwan.."
Ahh, lupa kah kita jika tilawah adalah obat segala penyakit?

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّ خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (Al-Isra`: 82)


Sungguh, rugi waktu yang kita lewati hanya karena keduniaan.
Jika kita bisa banting tulang bekerja mencari rezeki, kenapa tidak bisa banting tulang untuk ibadah?

Allah dulu, Allah lagi, Allah terus...
Ibadah, ibadah, ibadah kemudian usaha..

Semua terjadi atas izin Allah. Maka, minta izin dulu kepada yang Maha Memiliki, Maha Kaya.
Jangan berikan Allah sisa waktu kita. Nanti Allah kasih rezekinya sisa-sisa.

Yakinlah, yakin ibadah tak kan mengurangi waktu kita berkarya di dunia.
Yakinlah, yakin jika Allah telah meberi izin dan Ridho NYA, in syaa Allah semua akan dimudahkan.
Yakinlah, yakin semakin besar premi yang kita berikan, makin besar pula jaminan yang kita dapatkan.
Yakinlah, yakin. Agar Allah pun yakin kita siap menerima permintaan dan keinginan kita.

وَعَدَ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi…” (An-Nur: 55)


Note : Jangan biarkan setan tertawa atas penderitaan kita. Tapi tertawalah atas penderitaan setan-setan.

Saturday, September 27, 2014

Fiqih of the week:Riba

By Unknown   Posted at  9:13 PM   SPM No comments
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Hukum dasar harta ada tiga: adil, utama, dan zalim. Maka adil adalah jual

beli, utama adalah sedekah, dan zalim adalah riba dan semisalnya.

Riba adalah tambahan dalam penjualan dua barang yang berlaku riba pada

keduanya.
Hukum riba:
1. Riba termasuk dosa besar, dan diharamkan dalam semua agama samawi,
karena mengandung bahaya besar. Ia menyebabkan permusuhan di
antara menusia dan membawa kepada membesarnya harta atas hitungan
penarikan harta orang fakir. Padanya merupakan kezaliman bagi yang
membutuhkan, penguasaan orang kaya terhadap orang fakir, menutup
pintu sedekah dan perbuatan baik, dan membunuh syi'ar kasih sayang
pada manusia.
2. Riba adalah memakan harta manusia dengan cara yang batil,
menghilangkan segala usaha, perdagangan dan perindustrian yang
dibutuhkan manusia. Orang yang melakukan riba menambah hartanya
tanpa bersusah payah, maka ia meninggalkan perdagangan yang
dibutuhkan manusia. Tidak ada seseorang yang banyak melakukan riba
melainkan pada akhirnya adalah sedikit.

Hukum riba:
Riba termasuk dosa besar, dan Allah SWT telah mengumumkan
peperangan kepada pemakan riba dan yang mewakilkannya di antara semua
dosa yang lain.
1. Firman Allah SWT:

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa
riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. * Maka jika
kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah
dan Rasulnya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilanriba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula)

dianiaya." (QS. Al-Baqarah: 278-279).
2. Dari Jabir r.a, ia berkata:

"Rasulullah SAW mengutuk orang yang memakan riba, yang mewakilkannya,
penulisnya, dan dua orang saksinya, dan Beliau bersabda, 'Mereka itu sama
(dalam dosa)." (HR. Muslim no 1598)
3. Dari Abu Hurairah r.a, Nabi SAW bersabda:
"Jauhilah tujuh (7) perkara yang membinasakan. Mereka bertanya, 'Ya Rasulullah,
perkara apakah itu?' Beliau bersabda: 'Menyekutukan Allah SWT, sihir,
membunuh jiwa yang diharamkan Allah SWT kecuali dengan benar, memakan
riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, menuduh wanita
mukmin yang menjaga diri.' (Muttafaqun 'alaih).(HR. Bukhari No. 2766, ini adalah lafazhnya, dan Muslim No. 89.)
.Pembagian riba:
1- Riba nasi'ah: yaitu tambahan yang diambil penjual dari pembeli sebagai
imbalan pemberian tempo. Seperti ia memberikannya seribu secara kontan
dengan syarat ia membayarnya setelah satu tahun sebanyak seribu seratus,
umpamanya.
. Termasuk di antaranya adalah membalik hutang kepada orang yang susah.
Yaitu seseorang mempunyai tagihan harta secara bertempo kepada seorang laki laki.
Maka apabila telah jatuh tempo, ia (yang meminjamkan uang) berkata
kepadanya (yang meminjam uang), 'Apakah engkau membayar atau menambah?
Maka jika ia membayarnya (maka urusannya selesai), dan jika ia tidak
membayarnya, yang ini (yang meminjamkan uang) menambah temponya dan
yang ini (yang berhutang) menambah harta. Maka berlipatgandalah harta dalam tanggungan yang berhutang. Inilah asal mula riba pada masa jahiliyah. Maka
Allah SWT mengharamkannya dan mewajibkan menunggu orang yang susah. Ia
adalah jenis riba yang paling berbahaya, karena begitu besar bahayanya. Dan
sungguh telah tergabung riba padanya dengan berbagai jenisnya: riba nasi'ah,
riba fadhl, dan riba hutang.
1. Firman Allah SWT:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat
ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat
keberuntungan." (QS. Ali Imran: 130).
2. Firman Allah SWT:

"Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai
dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih
baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 280).
. Dan termasuk di antaranya adalah sesuatu yang terdapat pada jual beli dua
jenis yang sama-sama mengandung 'ilat riba radhl, di sertai ditunda penyerahan
keduanya, atau penyerahan salah satu dari keduanya. Seperti jual beli emas
dengan emas, gandum dengan gandum, dan semisal keduanya. Dan seperti
penjualan satu jenis dengan jenis lain dari semua jenis ini secara bertempo.
2. Riba fadhl: yaitu jual beli uang dengan uang, makanan dengan makanan
disertai tambahan. Hukumnya haram. Syari'at menjelaskan atas haramnya pada
enam perkara, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

"Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum halus dengan gandum halus,
gandum kasar dengan gandum kasar, kurma dengan kurma, garam dengan
garam, seumpama dengan seumpamanya, tangan dengan tangan (kontan).Apabila jenis-jenis ini berbeda, maka juallah sebagaimana kamu kehendaki,
apabila kontan." (HR. Muslim no 1587)

Diqiyaskan (analogikan) atas enam jenis ini segala yang sesuai dengannya pada
'illat (sebab): pada emas dan perak (barang berharga), dan pada empat yang
tersisa (takaran dan makanan) (atau timbangan dan makanan).

Takaran adalah takaran Madinah dan timbangan adalah timbangan ahli
Makkah, dan sesuatu yang tidak ditemukan pada keduanya, kembali padanya
kepada urf (kebiasaan orang banyak). Dan segala sesuatu yang haram padanya
riba fadhl, haram padanya riba nasi`ah.

3- Riba hutang: gambarannya adalah bahwa seseorang meminjamkan sesuatu
kepada orang lain, dan disyaratkan atasnya bahwa ia mengembalikan yang lebih
baik darinya, atau mensyaratkan atasnya manfaat apapun jua. Seperti
menempati rumahnya selama satu bulan misalnya. Hukumnya haram. Maka jika
tidak mensyaratkan dan yang meminjam memberikan manfaat atau tambahan
dengan dirinya (karena kerelaannya), niscaya boleh dan diberi pahala.

Hukum-hukum riba fadhl:
1. Apabila jual beli pada satu jenis riba, haram padanya berlebihan dan
bertempo, seperti seseorang menjual emas dengan emas, atau gandum
dengan gandum dan semisal keduanya. Maka disyaratkan untuk sahnya
penjualan ini samanya pada jumlah dan serah terima pada saat itu,
karena samanya dua benda yang ditukar pada jenis dan ilat (sebab).
2. Apabila jual beli pada dua jenis yang sama pada ilat riba fadhl, dan
keduanya berbeda pada jenis, haram bertempo dan boleh berlebihan,
seperti seseorang menjual emas dengan perak, atau gandum halus
dengan gandum kasar, dan semisal keduanya. Maka boleh jual beli
disertai berlebihan, apabila serah terima pada saat itu, secara kontan,
karena keduanya berbeda pada jenis, dan sama pada ilat.
3. Apabila jual beli di antara dua jenis riba yang tidak sama pada ilat, boleh
berlebihan dan bertempo seperti ia menjual makanan dengan perak, atau
makanan dengan emas dan semisalnya. Maka boleh berlebihan dan
bertempo, karena perbedaan dua benda yang ditukar pada jenis dan
sebab.

4. Apabila jual beli di antara dua jenis yang bukan riba, boleh berlebihan

dan bertempo, seperti ia menjual unta dengan dua ekor unta, atau

pakaian dengan dua pakaian dan semisal keduanya, maka boleh

berlebihan dan bertempo.
. Tidak boleh menjual salah satu di antara dua jenis dengan yang lain kecuali
keduanya berada pada satu tingkatan pada sifat, maka ruthab tidak dijual
dengan kurma kering, karena ruthab berkurang apabila sudah kering, maka
terjadilah berlebihan yang diharamkan.
. Tidak boleh menjual yang dibuat perhiasan dari emas atau perak dengan
jenisnya secara berlebihan, karena bikinan/ produksi pada salah satu yang
ditukar. Akan tetapi ia menjual yang ada bersamanya dengan dirham, kemudian
ia membeli yang sudah dibuat perhiasan.
. Bunga-bunga yang diambil oleh bank-bank pada masa sekarang atas hutanghutang
termasuk riba yang diharamkan, dan bunga-bunga yang diberikan bankbank
sebagai imbalan menyimpan uang adalah riba yang tidak boleh bagi
seseorang mengambil manfaatnya, tetapi ia harus berlepas diri darinya.
. Apabila kaum muslimin membutuhkan menyimpan atau transfer (uang), harus
lewat bank-bank Islam. Jika tidak ditemukan, karena terpaksa, boleh
menyimpan di bank lainnya, akan tetapi tanpa mengambil bunga, dan transfer
dari selainnya selama tidak menyalahi syari'at.
. Haram hukumnya bekerja di bank atau perusahaan apapun yang mengambil
atau memberikan riba, dan harta (gaji) yang diambil pekerja padanya adalah
haram yang diancam siksaan atasnya.
. Bagaimana melepaskan diri dari harta-harta riba:
Riba termasuk dosa besar, dan apabila Allah SWT telah memberi karunia
kepada orang yang menjalankan riba dan ia bertaubat kepada Allah SWT, dan ia
mempunyai harta yang terkumpul dari riba, dan ia ingin melepaskan diri
darinya, maka ia tidak lepas dari dua perkara:
1. Bahwa riba itu untuknya yang berada dalam jaminan manusia yang ia
belum mengambilnya, maka di sini ia mengambil modal hartanya dan
meninggalkan riba yang lebih atasnya.
2. Bahwa harta-harta riba itu diambil di sisinya, maka janganlah ia
mengembalikannya kepada pemiliknya dan jangan pula memakannya,
karena ia adalah usaha yang kotor. Akan tetapi ia berlepas diri darinyadengan berbuat baik dengannya, atau menjadikannya pada proyek-proyek

bermanfaat, karena berlepas diri darinya, seperti menerangi jalanan dan
melayaninya, membangun W.C-W.C. dan semisalnya.
Tidak ada riba pada hewan selama ia masih hidup, dan seperti ini pula setiap
yang dihitung. Maka boleh menjual satu ekor unta dengan dua ekor dan tiga
ekor unta. Apabila ia menjadi ditimbang atau ditakar, berlakulah riba padanya.
Maka tidak boleh menjual satu kilogram daging kambing dengan dua kilogram
daging kambing. Dan boleh menjual satu kilogram daging kambing dengan dua
kilogram daging sapi, karena perbedaan jenis, apabila terjadi serah terima pada
saat itu.
 Boleh membeli emas untuk dimiliki, atau untuk tujuan keuntungan, seperti
membelinya saat turun harganya dan menjualnya saat harganya naik.

Hukum menjual uang (penukaran uang):
Sharf: yaitu menjual uang dengan uang, sama saja bersatu jenis atau
berbeda, sama saja uang itu dari emas atau perak, atau dari uang-uang kertas
yang dipergunakan sekarang ini, maka ia mengambil hukum emas dan perak,
karena bersatunya keduanya pada benda berharga.

Apabila seseorang menjual mata uang sejenis, seperti emas dengan emas, atau
kertas uang dengan yang sejenis, seperti rupiah dengan rupiah, kertas atau
benda tambang, wajiblah sama pada ukuran dan serah terima di mejelis itu.

Dan jika ia menjual mata uang dengan mata uang dari jenis yang lain, seperti
emas dengan perak, riyal Saudi dengan dolar Amerika, umpamanya, boleh saling
berlebihan pada ukuran, dan harus serah terima di majelis itu.

 Apabila dua orang yang melakukan transaksi berpisah sebelum serah terima
semuanya atau sebagiannya, jual beli itu sah pada yang sudah diterima dan
batal pada sesuatu yang belum diterima, seperti ia memberinya satu dinar untuk
menukarnya dengan sepuluh (10) dirham. Maka ia tidak mendapatkan kecuali
hanya lima dirham, maka jadilah transaksi itu sah pada separuh dinar, dan
tetaplah setengahnya sebagai amanah di sisi penjual.

Source:
Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwajiri. Ringkasan Fiqih Islam

Saturday, September 20, 2014

Fiqih of The Week: Tauhid

By Unknown   Posted at  6:01 AM   SPM No comments
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Tauhid, yaitu seorang hamba meyakini bahwa Allah SWT adalah Esa, tidak ada sekutu bagiNya dalam rububiyah (ketuhanan), uluhiyah (ibadah), Asma' dan sifat-Nya

Urgensi Tauhid: Seorang hamba meyakini dan mengakui bahwa Allah SWT semata, Rabb (Tuhan) segala sesuatu dan rajanya. sesungguhnya hanya Dia yang Maha Pencipta, Maha Pengatur alam semesta. Hanya Dialah yang berhak disembah, tiada sekutu bagiNya. Dan setiap yang disembah selainNya adalah batil. Sesungguhnya Dialah Allah SWT bersifat kesempurnaan, Maha Suci dari segala aib dan kekurangan

Tauhid yang didakwahkan oleh para rasul dan diturunkan kitab-kitab
karenanya ada dua:
1. Pertama: Tauhid dalam pengenalan dan penetapan, dan dinamakan dengan
Tauhid Rububiyah dan Tauhid Asma dan Sifat. Yaitu menetapkan hakekat zat
Rabb SWT dan mentauhidkan (mengesakan) Allah SWT dengan asma (nama), sifat,
dan perbuatan-Nya.
Pengertiannya: seorang hamba meyakini dan mengakui bahwa Allah SWT
sematalah Rabb yang Menciptakan, Memiliki, Membolak-balikan, Mengatur alam
ini, yang sempurna pada zat, Asma dan Sifat-sifat, serta perbuatan-Nya, Yang
Maha Mengetahui segala sesuatu, Yang Meliputi segala sesuatu, di Tangan-Nya
kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia SWT mempunyai asma'
(nama-nama) yang indah dan sifat yang tinggi:

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia lah Yang Maha Mendengar
lagi Maha Melihat. (QS. Asy-Sura:11)

2. Tauhid dalam tujuan dan permintaan/permohonan, dinamakan tauhid
uluhiyah dan ibadah, yaitu mengesakan Allah SWT dengan semua jenis ibadah,
seperti: doa, shalat, takut, mengharap, dll.
Pengertiannya: Seorang hamba meyakini dan mengakui bahwa Allah SWT
saja yang memiliki hak uluhiyah terhadap semua makhlukNya. Hanya Dia SWT
yang berhak untuk disembah, bukan yang lain. Karena itu tidak diperbolehkan
untuk memberikan salah satu dari jenis ibadah seperti: berdoa, shalat, meminta
tolong, tawakkal, takut, mengharap, menyembelih, bernazar dan semisalnya
melainkan hanya untuk Allah SWT semata. Siapa yang memalingkan sebagian dari
ibadah ini kepada selain Allah SWT maka dia adalah seorang musyrik lagi kafir.
Firman Allah SWT:
Siapa menyembah ilah yang lain selain Allah SWT, padahal tidak ada suatu dalilpun
baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya.
Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tidak akan beruntung. (QS. Al-
Mukminun:117)
Tauhid Uluhiyah atau Tauhid Ibadah; kebanyakan manusia mengingkari
tauhid ini. Oleh sebab itulah Allah SWT mengutus para rasul kepada umat
manusia, dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka, agar mereka beribadah
kepada Allah SWT saja dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya.
1. Firman Allah SWT :
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan
kepadanya:"Bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka
sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS. Al-Anbiya` :25)
2. Firman Allah SWT:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan):"Sembahlah Allah SWT (saja), dan jauhilah Thaghut itu",…. (QS. An-
Nahl :36)

Hakekat dan Inti Tauhid:
Hakekat dan inti tauhid adalah agar manusia memandang bahwa semua
perkara berasal dari Allah SWT, dan pandangan ini membuatnya tidak menoleh
kepada selainNya SWT tanpa sebab atau perantara. Seseorang melihat yang baik
dan buruk, yang berguna dan yang berbahaya dan semisalnya, semuanya berasal
dariNya SWT. Seseorang menyembahNya dengan ibadah yang mengesakanNya
dengan ibadah itu dan tidak menyembah kepada yang lain.

Buah Hakekat Iman:
Seseorang hanya boleh tawakkal kepada Allah SWT semata, tidak memohon
kepada makhluk serta tidak memperdulikan celaan mereka. Ia ridha kepada Allah
SWT, mencintaiNya dan tunduk kepada hukumNya.

Tauhid Rububiyah diakui manusia dengan naluri fitrahnya dan pemikirannya
terhadap alam semesta. Tetapi sekedar mengakui saja tidaklah cukup untuk
beriman kepada Allah SWT dan selamat dari siksa. Sungguh iblis telah
mengakuinya, juga orang-orang musyrik, namun tidak ada gunanya bagi mereka.
Karena mereka tidak mengakui tauhid ibadah kepada Allah SWT semata.
Siapa yang mengakui Tauhid Rububiyah saja, niscaya dia bukanlah seorang
yang bertauhid dan bukan pula seorang muslim, serta tidak dihormati/diharamkan
darah dan hartanya sampai dia mengakui dan menjalankan Tauhid Uluhiyah.
Sehingga dia bersaksi bahwa tidak Ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain
Allah SWT semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dan dia mengakui hanya Allah SWT
saja yang berhak disembah, bukan yang lainnya. dan konsekuensinya adalah
hanya beribadah kepada Allah SWT saja, tidak ada sekutu bagiNya.

Tauhid Uluhiyah dan Rububiyah memiliki ketergantungan satu sama lain:
1. Tauhid Rububiyah mengharuskan kepada Tauhid Uluhiyah. Siapa yang
mengakui bahwa Allah SWT Maha Esa, Dia lah Rabb, Pencipta, Yang
Memiliki, dan yang memberi rizki niscaya mengharuskan dia mengakui
bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah SWT. Maka dia tidak
boleh berdoa melainkan hanya kepada Allah SWT, tidak meminta tolong
kecuali kepadaNya, tidak bertawakkal kecuali kepadaNya. Dia tidakmemalingkan sesuatu dari jenis ibadah kecuali hanya kepada Allah SWT
semata, bukan kepada yang lainnya. Tauhid uluhiyah mengharuskan bagi
tauhid rububiyah agar setiap orang hanya menyembah Allah SWT saja,
tidak menyekutukan sesuatu dengannya. Dia harus meyakini bahwa Allah
SWT adalah Rabb-Nya, Penciptanya, dan pemiliknya

2. Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah terkadang disebutkan secara bersama sama,
akan tetapi keduanya mempunyai pengertian berbeda. Makna Rabb
adalah yang memiliki dan yang mengatur dan sedangkan makna ilah adalah
yang disembah dengan sebenarnya, yang berhak untuk disembah, dan tidak
ada sekutu bagi-Nya. Seperti firman Allah SWT:

Katakanlah:"Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan
manusia" (QS. An-Naas: 1-3)
Dan terkadang keduannya disebutkan secara terpisah, maka keduanya
mempunyai pengertian yang sama, seperti firman Allah SWT :

Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, …". (QS. An-An'aam:164)
1. Firman Allah SWT :
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan
kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka
itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-An'aam: 82)

2. Dari 'Ubadah bin ash-Shamit r.a, bahwasanya Nabi SAW bersabda, "Siapa yang
bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah SWT. Tiada
sekutu bagi-Nya. Dan sesungguhnya Muhammad SAW adalah hamba dan Rasul-
Nya. Sesungguhnya Isa adalah hamba dan Rasul-Nya, serta kalimah-Nya yang
diberikan-Nya kepada Maryam dan Ruh dari-Nya. Dan (siapa yang bersaksi dan
meyakini bahwa) surga adalah benar, neraka adalah benar, niscaya Allah SWT
memasukkannya ke dalam surga berdasarkan amal yang telah ada". Muttafaqun
'alaih.(Muttafaqun 'alaih. HR. al-Bukhari no. (3435) dan ini lafaznya, dan Muslim no. (28))

3. Dari Anas bin Malik r.a, ia berkata, "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda,
'Allah SWT berfirman, 'Wahai keturunan Adam, selama kamu berdoa dan mengharap
kepada-Ku, niscaya Kuampuni semua dosa kalian dan Aku tidak perduli (sebanyak
apapun dosanya). Wahai keturunan Adam, jika dosamu telah sama ke atas langit,
kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, niscaya Kuampuni dan Aku tidak
perduli (sebanyak apapun dosamu). Wahai keturunan Adam, jika engkau datang
kepadanya dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau datang menemui-Ku
dalam keadaan tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, niscaya Aku datang
kepadamu dengan ampunan sepenuhnya (bumi)." Shahih. HR. at-Tirmidzi no. (3540), Shahih Sunan at-Tirmidzi no. (2805).

Balasan Ahli Tauhid
Firman Allah SWT:
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik,
bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di
dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka
mengatakan:"Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Mereka diberi
buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci
dan mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah: 25)

2. Dari Jabir r.a, ia berkata, "Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW seraya
berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah dua perkara yang bisa dipastikan?' Beliau
menjawab, 'Siapa yang meninggal dunia dan keadaan tidak menyekutukan
sesuatupun dengan Allah SWT niscaya dia masuk dan siapa yang meninggal dunia
dalam keadaan menyekutukan sesuatu dengan Allah SWT, niscaya dia masuk
neraka." HR. Muslim no. (93)

Keagungan Kalimah Tauhid
Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash r.a, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda,
"Sesungguhnya Nabi Nuh 'alaihissalam tatkala menjelang kematiannya, beliau
berkata kepada anaknya, "Sesungguhnya aku menyampaikan wasiat kepadamu:
Aku perintahkan kepadamu dua perkara dan melarangmu dari dua perkara. Saya
perintahkan kepadamu dengan kalimat laa ilaaha illallah (Tiada Ilah (yang berhak
disembah) selain Allah). Sesungguhnya seandainya tujuh lapis langit dan tujuh
lapis bumi diletakkan dalam satu daun timbangan dan kalimah laa ilaaha illallah
(Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah) diletakkan pada daun timbangan
yang lain, niscaya kalimat laa ilaaha illallah lebih berat. Dan jikalau tujuh lapis
langit dan tujuh lapis bumi merupakan sebuah lingkaran yang samar, niscaya
dipecahkan oleh kalimah laa ilaaha illallah dan subhanallahi wabihamdih (maha
suci Allah dan dengan memujian-Nya), sesungguhnya ia merupakan inti dari
semua ibadah. Dengannya makhluk diberi rizqi. Dan aku melarangmu dari
perbuatan syirik dan takabur…" Shahih. HR. Ahmad no. (6583) dan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. (558), Shahih al-Adab al-Mufrad no. (426).
Lihat as-Silsilah al-Shahihah karya Syaikh al-Albani no.( 134).

Kesempurnaan Tauhid
Tauhid tidak sempurna kecuali dengan beribadah hanya kepada Allah SWT
semata, tiada sekutu bagi-Nya dan menjauhi thaghut, seperti firman Allah SWT:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan):"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu... (QS. An-Nahl:36)
Thaghut adalah setiap perkara yang hamba melewati batas dengannya
berupa sesembahan seperti berhala, atau yang diikuti seperti peramal dan para
ulama jahat, atau yang ditaati seperti para pemimpin atau pemuka masyarakat
yang ingkar kepada Allah SWT.

Thaghut itu sangat banyak dan intinya ada lima:
1. Iblis –semoga Allah SWT melindungi kita darinya-,
2. Siapa yang disembah sedangkan dia ridha,
3. Siapa yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya,
4. Siapa yang mengaku mengetahui yang gaib,

5. Siapa yang berhukum kepada selain hukum Allah SWT.

SOURCE:
Syeikh Muhammad bin At-Tuwaijri.Ringkasan Fiqih Islam

Back to top ↑
Connect with Us

What they says

© 2013 SKI Al-Hajj FKG Usakti. WP Mythemeshop Converted by BloggerTheme9
Blogger templates. | Distributed by Rocking Templates Proudly Powered by Blogger.